Selamat Datang di "Seputar Semarang"

Salam Sejahtera.....
Para pengunjung juga para pembaca yang budiman..., dengan segala kerendahan hati sengaja saya posting satu tulisan yang sederhana ini, didorong keinginan kami untuk selalu dapat berkomunikasi dengan anda....
Sungguh saya ucapkan terimakasih manakala anda semua masih berkenan mengunjungi blog sederhana ini, lebih jauh apabila anda berkehendak menghubungi kami atau berkonsultasi dengan kami, silakan saja tinggalkan
coment dibagian bawah setiap post file kami, atau juga bisa kontak kami melalui e-mail di: alidabdulkhamid@gmail.com
Silakan, terima kasih atas segala perhatian.... .


Kini Hadir Toko On-Line yang menyediakan berbagai macam kebutuhan anda dengan kualitas Dunia, silakan klik di sini...

Minggu, 21 Maret 2010

Budaya "Riyoyo" yang mulai ditinggalkan...




Teringat sewaktu penulis masih kecil dan hidup bersama dengan orang tua di kampung, selain terwarnai oleh gegap gempita serta kemeriahan orang menyambut hari "kemenangan" setelah satu bulan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, tibalah saat yang ditunggu-tunggu tidak hanya anak-anak yang bergembira dengan baju barunya, melainkan juga para orang tua yang juga bersuka karena pada hari itu adalah sebagai saat kemenangan atas pertempuran dengan hawa nafsu selama satu bulan.





Kemeriahan tersebut semakin menjadi sesaat ketika tiba senja terakhir di bulan Ramadhan yang ditandai dengan gema takbir sebagai pertanda berakhirnya bulan Ramadhan. Tampak kemeriahan "spontan" terjadi dimana-mana, anak-anak hadir dengan baju baru kebanggaannya, orang tua terutama ibu-ibu sibuk dengan berbagai penganan serta sajian yang sudah direncakan beberapa hari sebelumnya.
"Pesta" akbar ini berlanjut hingga pagi hari menjelang dilaksanakannya sholat Id..., sampai di sini penulis sempat berhenti tercenung sesaat, terasa ada sesuatu yang hilang saat ini dibanding saat perayaan hari kemenangan dibanding saat lalu. Saat itu setelah selesai melaksanakan sholat Id yang biasanya dilaksanakan di masjid besar berlanjut dengan satu "ritual" adat "riyoyo-nan". Ditilik dari kacamata Islam memang acara ini "sepertinya" tidak ada tuntunan, tetapi memperhatikan dan mencermati akan apa yang terkandung di dalam kegiatan riyoyo ini sebetulnya menurut hemat penulis banyak hal-hal positif yang dapat kita petik dan patut kita tauladani.
Diawali dengan do'a bersama bermohon kepada Sang Khaliq semoga seluruh handai taulan mereka senantiasa diberikan kesehatan, panjang umur serta hidup berkah, ritual riyoyo berlanjut dengan "keakraban" bersama berupa makan bersama yang penuh terwarnai dengan derai tawa serta canda penuh keakraban serta rasa persaudaraan. Kegiatan ini terus berlangsung hingga semua hidangan yang disajikan habis tersantap bersama. Jikalau di saat bercanda nan penuh tawa, tersirat sedikit rasa kurang berkenan makin sempurna acara riyoyo ini karena diakhiri dengan kegiatan saling "ber-maaf-maafan" sebagai bentuk rasa saling ikhlas memberikan maaf kepada siapapun sanak saudara serta handai taulan.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar